Menu

Mode Gelap
Era Sutrino, Website Dilaunching Bupati Mian Dinilai Hanya Seremonial, Anggaran 2023 Dipertanyakan Anggaran Tahun 2023 Rp. 109 juta, Aplikasi Informasi Pasar Kerja Online Disnakertrans Dipertanyakan  Pemkab Bengkulu Utara Anggarkan Rp.1 Miliar Untuk Program Makan Bergizi Tahun 2025 Plt. Kadispendik DL, Kabid SMP Keluar, Anjing Bebas Berkeliaran Dikantor Dispendik Motor Dinas Kades dan Lurah Sudah Disalurkan

DAERAH · 15 Sep 2025 15:49 WIB ·

Soal Sewa Pulau Merbau Enggano, Dinilai Bakal Ganggu Keamanan Nasional


 Soal Sewa Pulau Merbau Enggano, Dinilai Bakal  Ganggu Keamanan Nasional Perbesar

Suarokito.Com – Terkait mengenai Pulau Merbau Enggano seluas sekitar 6,8 Hektare (0,068 km²) yang disewakan oleh pihak yang mengatasnamakan Lembaga Adat Enggano selama 20 tahun dengan sewa pertahunnya sebesar Rp. 2 juta dikhawatirkan bakal berdampak mengganggu ketahanan dan kedaulatan negara.

Tak ayal, membuat pihak Pemkab Bengkulu Utara bersama Forkompida berkumpul untuk membahas terkait Pulau Terluar (Pulau Merbau red) yang saat ini telah disewakan oleh pihak yang mengatasnamakan lembaga Adat Enggano kepada pihak ketiga.

Bagaimana tidak, Pulau Merbau terletak di dekat Pulau Enggano, yang merupakan pulau terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia yang menjadikan tempat strategis di jalur samudera sebagai lintasan dari kapal-kapal Asing.

“Tadi kita (Pemkab Bengkulu Utara.red) bersama pihak Forkompida membahas hal ini. Pulau Merbau itu milik Negara. Kalau kita biarkan tentu ini bakal mengganggu keamanan dan kedaulatan negara. Jelas kita sikapi hal ini dengan serius,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Bengkulu Utara, Fitriyansyah, S.STP, M.Si, Senin (15/09/2025).

Dikatakan Fitriyansyah, S.STP, M.Si, bahwa pihaknya saat ini tengah mengkajinya. Bahkan dalam dua hari ini pihaknya bakal memanggil secara resmi pihak-pihak terkait dalam penyewaan Pulau Merbau tersebut

“Kita pelajari dulu. Dalam dua hari ini kita bakal melakukan pemanggilan secara resmi. Kita minta penjelasan dan dasarnya melakukan itu. Tentu kepala desa, camat, dan yang lainnya kita panggil. Jelas kita libatkan juga pihak Forkompida. Nantinya, juga kita bakal bersurat kepada pihak provinsi termasuk juga dengan pemerintah pusat terkait hal ini,” jelas Sekda.

Sebelumnya, Pulau Merbau yang luasnya sekitar 6,8 Hektare (0,068 km²) telah disewakan oleh MI selaku Pabuki yang mewakili para kepala suku dan ketua pintu suku lembaga adat Enggano kepada FHC yang beralamatkan di Jakarta dan MK warga Enggano.

Didalam dalam perjanjian sewa tersebut di sewakan oleh MI kepada FHC dan MK selama 20 tahun dengan kontrak sewa sebesar Rp. 2 juta/tahun.

Bahkan data yang didapatkan awak media ini, pada Minggu 07 September 2025 tepatnya pukul 14.00 diadakan musyawarah dirumah salah satu warga berinisial SI terkait pulau Merbau yang disewakan.

“Memang benar itu sudah disewakan. Kami dari pihak pemerintah desa tidak tahu menahu soal tersebut. Tahu-tahu besoknya tanggal 08 September 2025 pagi ada yang datang kerumah itu pihak ketiga yang minta tanda tangan saya, saya tolak. Karena yang dilakukan itu sudah melanggar aturan Karena pulau itu milik Negara. Sewa menyewa pulau tidak boleh dilakukan oleh perorangan, lembaga atau organisasi yang bukan negara. Dasarnya jelas. Maka saya tolak,” ujar Kades Alamsyah, S.Pd.I.

Lebih lanjut, dikatakan Kades Kahyapu bahwa setelah menolak hal tersebut dirinya melakukan melaporkan dan berkordinasi kepada pihak kecamatan dan Danramil disana.

“Sudah saya laporkan ke pihak Danramil dan kecamatan soal sewa pulau Merbau itu oleh pihak lembaga Adat Enggano. Karna itu menyalahi aturan. Kami pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah tersebut dan kami juga dari pemerintah desa juga tidak ada menandatangani dan mengeluarkan surat menyetujui sewa menyewa pulau tersebut. Saya siap untuk untuk memberikan klarifikasi terkait hal ini. Karena Pulau Merbau tersebut termasuk wilayah desa kami. Dan juga saya tidak setuju kalo pulau itu disewakan,” pungkas Kades. (Eren)

Artikel ini telah dibaca 166 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Masa Pemeliharaan Habis, Proyek Hatchery Rp199 Juta Tetap Akan Diperbaiki

14 April 2026 - 16:09 WIB

Dalih Anggaran Terbatas Dipatahkan Fakta, Proyek BBI Rp199 Juta Diduga Gagal

13 April 2026 - 09:59 WIB

Diduga Disembunyikan, Stok Bantuan Rp128 Juta di Bulog Jadi Teka-Teki Publik

11 April 2026 - 12:34 WIB

Dalih Anggaran Terbatas, Proyek Diduga Amburadul, Kadis Perikanan: “Jangan Dipublikasikan!”

9 April 2026 - 14:47 WIB

Bantuan Tertahan, Bencana Ditunggu? Rp128 Juta “Terparkir” di Bulog Jadi Sorotan Tajam

9 April 2026 - 11:53 WIB

Anggaran Rp128 Juta “Parkir” di Bulog, Kadis Ketahanan Pangan Akui Belum Disalurkan

8 April 2026 - 08:55 WIB

Trending di DAERAH