Suarokito.com – Proyek pembangunan gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) milik Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Utara (BU) tahun anggaran 2025 kini menjadi sorotan keras. Bangunan yang menghabiskan dana hampir setengah miliar rupiah itu sudah menunjukkan kerusakan, meski baru seumur jagung.
Hasil pantauan di lapangan memperlihatkan retakan pada dinding di sejumlah titik. Ironisnya, kerusakan ini muncul ketika bangunan bahkan belum lama selesai dikerjakan. Tak hanya itu, kualitas finishing tampak jauh dari standar: plesteran bergelombang, sudut bangunan kasar, dan sisa semen yang dibiarkan tanpa perapian—indikasi kuat pekerjaan yang dilakukan tanpa ketelitian dan kontrol mutu yang memadai.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan menyangkut mutu konstruksi secara keseluruhan. Retak dini pada bangunan baru menimbulkan dugaan serius: apakah material yang digunakan sesuai spesifikasi? Apakah metode pengerjaan dilakukan dengan benar? Atau justru pengawasan proyek yang mandul?
“lihat saja bangunan nya disana dek. Baru beberapa bulan selesai dibangun, tapi sudah retak. Bagaimana nanti beberapa tahun ke depan? Ini uang negara, harusnya dikerjakan serius,” ujar salah seorang warga.
Sorotan tajam pun mengarah langsung ke Dinas Kesehatan Bengkulu Utara sebagai pengguna anggaran, serta kontraktor pelaksana yang bertanggung jawab atas mutu pekerjaan.
Publik menilai, proyek dengan nilai ratusan juta rupiah semestinya menghasilkan bangunan yang kokoh dan layak, bukan justru memunculkan kerusakan dalam waktu singkat.
Kuat dugaan, lemahnya pengawasan menjadi pintu masuk terjadinya persoalan ini. Bahkan, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah spesifikasi teknis proyek benar-benar dijalankan atau hanya sekadar formalitas di atas kertas.
Lebih jauh, kondisi ini membuka ruang kecurigaan adanya potensi pemborosan hingga penyimpangan anggaran. Jika benar demikian, maka proyek ini bukan hanya gagal secara teknis, tetapi juga berpotensi merugikan keuangan negara.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Utara, Faizal Hadi, SKM, M.Si, saat dikonfirmasi hanya memberikan jawaban singkat tanpa menyentuh substansi persoalan.
“Lagi ke Bengkulu, Dek. Rapat di Dinkes Provinsi dan ada acara sampai hari Rabu,” ujarnya.
Namun, ketika ditanya terkait kondisi bangunan Pustu yang sudah retak meski baru selesai dibangun, yang bersangkutan memilih bungkam tanpa penjelasan lebih lanjut.
Sikap tersebut semakin memicu tanda tanya publik: ada apa sebenarnya di balik proyek ini?
Masyarakat mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap proyek tersebut, termasuk pemeriksaan kualitas konstruksi dan penggunaan anggaran. Aparat penegak hukum juga diminta turun tangan jika ditemukan indikasi pelanggaran.
Fasilitas kesehatan seharusnya menjadi simbol pelayanan dan keamanan bagi masyarakat. Namun jika dibangun dengan kualitas seperti ini, bukan tidak mungkin justru menjadi ancaman di kemudian hari. (Eren)







